Mouth Breathing: Bahaya Kebiasaan Bernafas Melalui Mulut

Mouth Breathing: Bahaya Kebiasaan Bernafas Melalui Mulut

Secara umum, orang memiliki dua saluran udara menuju paru-paru, yaitu hidung dan mulut. Normalnya, mereka akan bernapas melalui hidung hampir sepanjang waktu. Namun, beberapa orang mungkin memiliki kebiasaan bernapas melalui mulut di berbagai kondisi, dan inilah yang dinamakan mouth breathing. Jika Anda sudah terbiasa melakukannya dalam jangka waktu panjang, maka akan menyebabkan masalah kesehatan yang cukup serius di kemudian hari.

Cari tahu selengkapnya tentang apa itu mouth breathing, gejala yang mungkin muncul, penyebab, dan cara mengatasinya!

Apa Itu Mouth Breathing?

Mouth breathing adalah kondisi ketika seseorang tidak bernapas melalui hidung, melainkan melalui mulut. Mereka yang mengalami mouth breathing menghirup udara lewat mulut bahkan ketika sedang tidak sakit pilek atau setelah berolahraga. Saat sedang tertidur, orang mungkin tidak sadar kalau mereka tidur dengan mulut terbuka dan bernapas melalui jalan mulut, inilah yang jadi alasan mengapa sebagian orang terbangun dengan mulut kering dan air liur di bantal. Tapi, lebih dari sekadar masalah itu, mouth breathing juga tidak baik jika berlanjut jadi kebiasaan, mereka mungkin akan mengalami gangguan tidur, seperti sleep apnea.

Untuk itu, sangat dianjurkan agar melakukan aktivitas pernapasan melalui hidung karena hidung menghasilkan oksida nitrat, yang meningkatkan paru-paru untuk menyerap oksigen. Oksida nitrat juga bisa melemaskan otot polos pembuluh darah menjadi lebih lebar.

Diagnosis dari mouth breathing sendiri, dapat dilakukan oleh dokter gigi maupun dokter spesialis THT.

Ciri-Ciri Anak/Orang Dewasa Mengalami Mouth Breathing

Mulanya, Anda mungkin tidak sadar menggunakan mulut sebagai alat pernapasan, terutama saat tidur, sampai akhirnya muncul tanda atau gejala yang mengarah pada perilaku mouth breathing. Berikut beberapa gejala awal yang penting untuk diperhatikan:

  • Memiliki kebiasaan mendengkur ketika tidur
  • Mulut terasa lebih kering
  • Bau mulut
  • Air liur berlebih saat tidur sehingga membasahi bantal
  • Bangun tidur tidak dalam kondisi fresh
  • Suara serak dan sakit tenggorokan

Penyebab Mouth Breathing

Sebagian besar mouth breathing terjadi akibat kasus saluran napas hidung yang tersumbat, baik seluruh maupun sebagian. Ketika hidung tersumbat, tubuh secara otomatis mencari satu satunya sumber lain yang bisa menghirup oksigen, yaitu mulut. Selain itu, ada beberapa penyebab mouth breathing:

Membesarnya Adenoid

Adenoid adalah kelenjar yang terletak di saluran napas bagian atas, tepat di atas langit-langit, di belakang rongga hidung. Jika kelenjar ini melebar dan membengkak, maka saluran napas akan terhalang, sehingga kondisi ini membuat seseorang kesulitan bernapas melalui hidung.

Polip Hidung

Polip hidung merupakan jaringan lunak di rongga hidung, bentuknya bisa berupa benjolan atau seperti anggur kecil yang menutup rongga hidung. Orang yang memiliki polip hidung akan kesulitan menggunakan hidung sebagai alat pernapasan utama, sehingga pilihan lainnya adalah bernapas melalui mulut.

Septum Menyimpang

Penyebab mouth breathing selanjutnya adalah septum menyimpang. Septum sendiri adalah tulang rawan yang membagi hidung menjadi dua sisi. Jika septum menyimpang atau miring, saluran napas melalui hidung akan terganggu.

Hidung Mengalami Alergi

Hidung memiliki reaksi sensitivitas terhadap zat-zat, seperti debu, serbuk, atau bulu hewan. Pada saat itu, tubuh akan mengeluarkan histamin, zat kimia yang melawan zat-zat asing tersebut. Histamin inilah yang memicu hidung menjadi tersumbat dan gatal atau bahkan bersin-bersin, yang membuat tubuh memilih untuk menggunakan mulut sebagai saluran pernapasan yang mengalirkan udara ke paru-paru.

Dampak Mouth Breathing terhadap Kesehatan Tubuh & Mulut Intraoral?

Terlihat seperti masalah yang ringan, namun ternyata mouth breathing bisa berdampak bagi kesehatan mulut dan kesehatan tubuh lainnya. Ini dia beberapa hal yang bisa menjadi efek samping dari kebiasaan bernapas melalui mulut.

Gum Disease

Dampak utama yang mungkin paling dirasakan oleh penderita mouth breathing adalah gum disease. Bernapas lewat mulut dapat membuat gusi dan jaringan yang melapisi mulut kering. Tanpa cukup air liur, bakteri lebih mudah berkembang dan Anda lebih rentan mengalami penyakit gusi.

Kerusakan pada Gigi

Salah satu faktor yang mempengaruhi kerusakan gigi adalah bakteri kadar asam yang mampu mengikis email gigi secara perlahan. Kondisi ini dapat diperparah oleh mouth breathing yang mengurangi kelembapan mulut, memicu pertumbuhan bakteri, serta meningkatkan kadar asam pada mulut. 

Bau Mulut

Bau mulut atau halitosis juga menjadi salah satu masalah intraoral yang bisa disebabkan oleh mouth breathing. Jika mulut kering akibat terus menerus bernapas melalui mulut, bakteri dalam mulut akan terakumulasi dan menyebabkan Anda memiliki bau mulut.

Bernapas lewat mulut dapat menyebabkan konsentrasi oksigen rendah dalam darah. Hal ini terkait dengan tekanan darah tinggi dan gagal jantung. Penelitian menunjukkan bahwa bernapas lewat mulut juga dapat menurunkan fungsi paru-paru.

Open Bite

Ini adalah dampak jangka panjang yang bisa terjadi akibat masalah mouth breathing. Ketika seseorang bernapas lewat mulut, kontak gigi posterior saat mengunyah menjadi minimal. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan vertikal gigi posterior, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan oklusi dan memicu terbentuknya open bite (gigitan terbuka anterior).

Hal lain yang mungkin berpengaruh adalah perubahan posisi lidah pada orang yang mengalami mouth breathing. Posisi lidah mereka cenderung berada di bawah (inferior), jika hal ini berulang terus menerus, tekanan lidah ke gigi depan dapat menyebabkan gigi terdorong ke depan dan memperburuk maloklusi.

Menurunkan Fungsi Paru-Paru

Paru-paru dan tenggorokan akan berfungsi lebih baik dengan udara lembap. Udara yang dihirup melalui hidung akan lebih lembap karena hidung memiliki struktur tulang yang disebut turbinat, juga silia (rambut halus dalam hidung) membantu menyaring alergen dan polusi. Sementara udara yang dihirup lewat mulut lebih kering dan tidak ada organ khusus dalam mulut yang bertugas menyaring, menghangatkan, dan melembapkan udara yang masuk ke paru-paru. Sehingga, saluran pernapasan lebih rentan mengalami iritasi dan peradangan, hal ini juga dapat memengaruhi fungsi dan kesehatan paru-paru.

Eksaserbasi pada Penderita Asma

Eksaserbasi asma merupakan peningkatkan secara progresif gejala asma, seperti sesak napas, batuk, mengi, dan fungsi paru. Udara dingin dan kering yang dihirup melalui mulut dapat mengiritasi saluran napas penderita asma, memicu penyempitan (bronchoconstriction) dan serangan asma.

Kelainan Fisik pada Anak-Anak

Mouth breathing yang terjadi pada anak-anak dapat menyebabkan kelainan fisik dan masalah kognitif. Salah satu dampak negatif bernapas lewat mulut pada anak-anak adalah timbulnya gangguan tumbuh kembang gigi dan rahang atau maloklusi. Hal ini disebabkan karena fungsi pernapasan, penelanan, dan pengunyahan sangat berkorelasi dengan tumbuh kembang gigi dan rahang.

Perawatan Apabila Dampak Mouth Breathing telah Timbul

Perawatan untuk mouth breathing tergantung pada penyebab utamanya. Apabila dampak yang dirasakan akibat mouth breathing mulai timbul dan mengganggu, lakukan beberapa perawatan berikut untuk membantu mengatasinya.

Antihistamin

Antihistamin adalah obat yang digunakan untuk meredakan gejala reaksi alergi. Jika mouth breathing disebabkan oleh reaksi alergi atau infeksi, biasanya dokter akan meresepkan antihistamin untuk membantu mengatasi alergi dan saluran pernapasan lewat hidung berjalan normal kembali.

Behel

Kebiasaan bernapas melalui mulut dapat menimbulkan masalah pada gigi dan rahang, termasuk maloklusi dan open bite. Untungnya, dampak dari mouth breathing tersebut dapat diatasi dengan perawatan ortodonti, seperti pemasangan behel. Behel akan membantu mendorong gigi kamu ke posisi yang seharusnya dan memperbaiki bentuk gigitan serta penampilan senyum Anda.

Operasi

Jika mouth breathing disebabkan oleh kelenjar adenoid yang bengkak dan terinfeksi, maka bisa dilakukan operasi adenoidektomi untuk membuka saluran udara. Namun, apabila mouth breathing disebabkan oleh septum yang menyimpang, dokter mungkin akan menyarankan operasi septoplasty.

Menghilangkan Kebiasaan Bernapas melalui Mulut

Mouth breathing yang tidak disebabkan oleh kondisi atau masalah hidung, masih dapat diatasi. Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menghilangkan kebiasaan bernapas melalui mulut:

  • Gunakan mouth taping di malam hari untuk mendorong kebiasaan bernapas melalui hidung saat tidur dan mengurangi dengkuran. Namun, saat menggunakan mouth taping, pasien juga harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter THT.
  • Rajin berolahraga agar memperkuat otot pernapasan. Gerakan yang konsisten juga bisa meningkatkan efisiensi pernapasan dan mendukung kebiasaaan pernapasan yang lebih baik.
  • Kurangi stres karena stres dapat menyebabkan pernapasan menjadi dangkal dan tanpa disadari bisa menyebabkan Anda beralih ke pernapasan mulut.
  • Meditasi dan yoga untuk meningkatkan relaksasi, membantu mendorong pernapasan hidung yang lebih dalam.
  • Tidur dengan posisi yang tepat. Cobalah ambil posisi tidur menyamping untuk memperlancar aliran udara melalui hidung. Hindari tidur telentang karena dapat meningkatkan kemungkinan mouth breathing.